cari

27 February 2012

fenomena peminta-minta, tuna wisma dan orang gila

Dalam beberapa bulan ini di Purbalingga sering sekali dijumpai  para peminta-minta, tuna wisma dan orang gila di jalanan...dari kota sampai di pelosok desa ...beberapa di antaranya merupakan orang asli daerah tersebut yang hanya beroperasi disekitar rumahnya...untuk peminta-minta biasanya mereka sangat banyak di waktu ada pengajian berskala kecamatan-kabupaten, di pasar, alun-alun dan beberapa masjid. untuk tuna wisma sebagian besar berada di sekitar bekas pasar, dan kawasan selatannya (namun selalu berpindah-pindah) sedangkan orang gila tersebar sampai pelosok , ada yang jalan-jalan jauh sampai 15 km se hari (tidak ngikutin, tapi tdk sengaja ketemu lagi sudah sampai sejauh itu), beberapa yang lain nge-tem di lokasi tertentu dan berlagak gila (emang gila)...orang sekitar yang iba terkadang memberi pakaian ganti untuk mereka karena pakaianya lusuh dan kumal.



menunggu rejeki dari yang mau ngaji  

Beberapa waktu yang lalu ada pengajian di desa, ternyata yang datang paling duluan adalah para peminta-minta ...mereka sudah datang waktu microphonenya lagi dites alias jam 5 pagi ...mungkin sekalian jalan pagi...beberapa di antaranya adalah anak kecil, yah mumpung liburan..(pengajian ini setiap Ahad pagi)...mereka datang dari beberapa tempat yang lumayan jauh dari sini..sekitar 20 km an, bahkan ada yang berjarak 30 km di kaki gunung...(sejauh itu ngojek!)...tapi melihat penerimaan dari para dermawan yang mau ngaji...yah lumayan dapetnya bisa nutup ongkos transportasi plus lain-lain....
pemandangan seperti ini sebenarnya kurang nyaman apabila dipandang, namun inilah realita yang ada (bahkan kota kecil macam Purbalingga-pun banyak orang gila, pengemis dan gelandangan apalagi kota yang lebih besar)....dituntut pemecahan yang lebih dan peranan dari warga sekitar(yang ada pengemisnya), pemerintah dan lembaga sosial yang terkait...bukan dengan pemaksaan namun lebih elegan lagi dengan kebijaksanaan tiap-tiap individu untuk lebih memperhatikan sekitarnya...

31 January 2012

di bawah bayang-bayang kabel

kita hidup di daerah ini ternyata ada di bawah bayang-bayang kabel, baik itu kabel listrik maupun kabel telepon..kabel-kabel tersebut melintasi atas bumi  istilah jawanya pating tlalang atau melintang membujur di atas rumah, pohon, sawah atau sungai...tentu saja bagi yang telah dimasuki jaringan PLN atau Telkom..
Secara artistik dan keindahan tentu saja ini tidak bernilai positif, tapi mau bagaimana lagi karena di sini belum mampu membuat jaringan bawah tanah secara besar-besaran....
jika kita melihat ke atas, sepanjang jalan kabel-kabel itu ada di kiri dan kanan jalan, bahkan pembangunan jaringan listrik baru akan menambah jumlah kabel listrik yang ada....belum lagi ditambah kabel listrik untuk penerangan jalan, tambah ruwetlah itu semua...
memang untuk listrik, semakin tinggi tegangannya, makin tinggi pula kabelnya tapi hal ini tetap membuat khawatir orang yang ada di bawah...(bisa karena radiasi atau karena takut  towernya rubuh mengenai rumah)..seperti yang terlihat di tempat saya, ada kabel listrik untuk penerangan jalan yang tidak keruan bahkan mungkin kurang ditarik atau bagaimana, tingginya sampai menyentuh 1,5 meter saja ...untungnya di sawah dan jauuh dari rumah, tapi bagaimana kalau ada anak-anak yang main-main kabel listrik itu?
Sampai sekarang entah sudah berapa banyak korban akibat adanya kabel-kabel di atas kita itu,
baik korban meninggal akibat menebang pohon terus pohonnya kena kabel listrik , lagi naik pohon ambil buah ternyata pohonnya terkena kabel listrik atau yang paling ringan yaitu layangan yang nyangkut di kabel listrik...tetap saja menimbulkan kekhawatiran bagi kita. Belum lagi tiang listrik yang gede-gede itu...di tempat rawan gempa akan jadi perhatian khusus karena bisa saja itu ambruk dan mengenai sesuatu yang ada di bawahnya....
Dan akhirnya, memang semua itu butuh proses dan langkah pencegahan selau dibutuhkan..seperti penebangan pohon yang dilewati kabel listrik secara periodik, perawatan kabel (baik listrik maupun telepon)pengecekan apakah ada yang longgar sekrup atau ikatan antar kabel, dan apakah tinggi kabel-kabel itu telah memenuhi  standar...semoga saja esok akan lebih baik lagi

24 November 2011

oh perbaikan jalan....!

sebuah obrolan kecil terlontar dari warga di pinggiran Purbalingga,...yah, sebuah realita yang harus dihadapi pada tahun-tahun ini. Bila kita melewati jalanan maka, masih banyak terlihat jalan yang dalam taraf perbaikan namun sekian lama hanya berupa tumpukan pasir, batu, atau Stoom yang berhari-hari menunggu beroperasi.  yah, jika digarap sekalipun seperti santai sekali, sehari dikerjakan kemudian sepi...Beberapa minggu ini terdapat perbaikan jalan di jalan raya Penican-Kedungbenda, terutama perbaikan jembatan, pemasangan cor dan pemunduran brug itupun juga sangat lama, maklum dari beberapa lokasi hanya dikerjakan oleh sedikit personel yang kerjanya menggilir dari satu lokasi ke yang lain...yang kena imbasnya tentu pengguna jalan, karena harus hati-hati sewaktu melewati jalanan itu

16 November 2011

purbalingga musim penghujan

bulan november, kota ini mulai diguyur hujan. dengan intensitas ringan sampai sedang, kadang pagi, siang atau malam..yah seperti sudah pada musimnya..imbasnya adalah dari ada kegiatan baru orang-orang di sini yaitu hujan-hujanan, memakai mantel, payung sampai kejadian musiman yang disebut banjir. Sementara ini memang belum begitu besar banjir atau istilahnya luapan sungai itu, karena hujan yang terjadi hanya selama maksimal 8 jam..contoh konkret yang biasa terjadi adalah luapan sungai klawing beserta anakan sungai, saluran yang bermuara di sana. mungkin masih dalam taraf ringan tapi, penambahan debit air sungai menyebabkan naiknya atau bergesernya pinggiran sungai hingga 50 meteran (tentu saja ini berlaku bagi sungai yang memiliki tepian landai dan tanpa diberi beton penahan luapan air atau diberi beton permanen menjaga stabilitas tanah di tepiannya.

15 October 2011

potensi spiritual dan sejarah purbalingga bagian selatan

Purbalingga bagian selatan atau bisa disebut "kidul kali Klawing" adalah wilayah Purbalingga yang selama ini luput dari perhatian dan pengembangan kota...wilayah ini meliputi Kecamatan Kemangkon, Bukateja dan sebagian wilayah kecamatan Kejobong.....sedikit terfokus pada kecamatan Kemangkon.
secara umum wilayah ini memang miskin potensi baik potensi alam maupun potensi perwilayahan, namun menyusul adanya rencana pembangunan jembatan sungai Klawing di bagian barat, yang menghubungkan wilayah Sokaraja dan Kemangkon..mau tidak mau wilayah ini akan berpotensi., karena akan menjadi lebih ramai dengan adanya kendaraan besar lewat jalur ini dan mempersingkat waktu perjalanan selama 30 menit bahkan lebih (untuk kendaraan dari Purwokerto yang akan menuju Wonosobo atau Semarang)